Anak Diduga Diusir Oknum Guru SMAN 8 Lubuklinggau Gara-Gara Atribut Belum Lunas, Orang Tua Menangis Kecewa
TAYANG VIRAL, LUBUKLINGGAU – Perilaku tidak menyenangkan diduga dilakukan oleh seorang oknum guru di SMA Negeri 8 Lubuklinggau terhadap salah satu siswanya. Hanya karena belum melunasi biaya atribut sekolah sebesar Rp400.000, siswa tersebut mendapat perlakuan kasar hingga diusir saat pembagian seragam sekolah.
Kejadian ini menyisakan kekecewaan mendalam dan kesedihan bagi orang tua murid. Dengan mata berkaca-kaca, sang orang tua menceritakan kembali momen saat buah hatinya pulang ke rumah sambil menceritakan insiden tersebut.
Menurut penuturan orang tua siswa, oknum guru tersebut mengeluarkan kata-kata bernada tinggi menggunakan bahasa daerah di hadapan murid-murid lainnya.
"Apo gawe kau kesini, pergilah kau kan belum lunas!" ujar orang tua siswa menirukan bentakan oknum guru tersebut dengan nada lantang.
Sang orang tua mengungkapkan bahwa keterlambatan pembayaran tersebut sama sekali bukan disengaja, melainkan karena keluarga mereka tengah tertimpa musibah kecelakaan.
"Kalau saya tidak kena musibah kecelakaan, tidak mungkin saya terlambat membayar. Harapan saya, ibu guru tersebut jangan terlalu kasar. Anak saya ini bukan siswa SD lagi, tentu dia sangat malu di depan teman-temannya," ungkap sang orang tua dengan nada sedih.
Sebelumnya, orang tua murid sudah mendatangi SMA Negeri 8 Lubuklinggau untuk menanyakan ketersediaan topi dan dasi, namun oknum guru berdalih stok sudah habis.
Tanggapan Kepala SMAN 8 Lubuklinggau
Menanggapi kabar tersebut, Kepala SMA Negeri 8 Lubuklinggau, Bapak Himawari, memberikan klarifikasi dan pernyataan resmi melalui pesan singkat WhatsApp.
Beliau menegaskan bahwa pihak sekolah pada prinsipnya tetap membagikan seragam dan atribut kepada seluruh siswa tanpa terkecuali, meskipun pembayaran belum dilunasi sepenuhnya. Pihaknya juga akan memanggil staf terkait untuk dimintai konfirmasi mengenai kronologi pembagian seragam tersebut.
"Besok saya akan konfirmasi terlebih dahulu dengan staf terkait seragam. Pada dasarnya, semua siswa tetap kita kasih seragam dan atributnya walaupun belum utuh pembayarannya," tegas Bapak Himawari.
Selain itu, Kepala SMAN 8 Lubuklinggau menyampaikan rasa prihatin dan permohonan maaf yang mendalam kepada pihak keluarga siswa atas ketidaknyamanan yang terjadi, serta membuka pintu bagi orang tua murid jika ingin bertemu secara langsung.
"Sampaikan permohonan maaf kami kepada pihak keluarganya. Jika orang tua murid berkenan dan ingin bertemu langsung dengan saya, kami sangat terbuka," pungkasnya.(Redaksi)

Tidak ada komentar